Home > Bacaan Islam > HARTA KITA YANG SEBENARNYA

HARTA KITA YANG SEBENARNYA

HARTA KITA YANG SEBENARNYA
oleh: yovi_el faqir_rohman

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al-Baqoroh/261)

Sungguh Allah tidak akan menyiakan2 ganjaran orang-orang mukmin. Allah akan melipatgandakan harta orang yang mahu menginfakkan hartanya dijalan Allah, bahkan sampai 700 kali lipat.

Saudaraku sesama muslim, mungkin sebagian diantara kita terlahir dari keluarga yang kaya, yang hidup berkecukupan, sebagian lagi dari keluarga yang sederhana sedikit tapi cukup. Bahkan mungkin dari keluarga yang kurang mampu.
Sesungguhnya harta yang kita miliki sekarang bukannlah milik kita, itu semua hanyalah titipan dari Allah, terkadang harta itu diberikan untuk menguji kita, untuk menjadi orang yang sabar ataw menjadi orang yang syukur.
Banyak orang bisa bertahan ketika di uji Allah dengan kurangnya harta, sebaliknya tidak sedikit orang yang terlena ketika Allah mengujinya dengan banyaknya harta, sebagai contohnya Qorun pada jamannya nabi Musa yang kuci tempat penyimpanan hartanya saja tidak bisa diangkat oleh satu orang. Dia di uji oleh Allah dengan banyaknya harta yang pada gilirannya dia berlaku sombong dan enggan untuk bersyukur lalu Allah menenggelamkan dia dan seluruh hartanya. Marilah kita contoh nabi Sulaiman seorang nabi yang sekaligus raja, ketika Allah berikan harta dan kekuasaan yang besar baginya, beliau mengucapkan
Hazda min fadli robbi liyabluwani aaskuru am akfur (sesungguhnya semua ini dari Allah, untuk mengujiku apakah aku menjadi orang yang syukur atau kufur)
Nabi Sulaiman tahu betul bahwa hanyalah Allah zat yang maha kaya, kita semua hanyalah hamba.

Saudaraku sesama muslim, sesungguhnya harta yang kita miliki adalah titipan Allah. Mobil, rumah, uang dll adalah ujian bagi kita, Jika seandainya kita memiliki uang 1 juta mungkin uang itu dalam waktu satu bulan sudah habis kita belanjakan, tapi jika dari 1 juta itu kita sisihkan 5 ribu saja untuk faqir miskin, maka itulah harta kita yang sebenarnya yang bisa kita nikmati di surga nanti, harta kita yang abadi adalah harta yang kita shodaqohkan kepada mereka yang sangat memerlukannya. Kalaw uang kita yang satu juta mungkin hanya bisa kita nikmati selama satu bulan tapi 5 ribu yang kita sedekahkan bisa kita nikmati selamanya yaitu disurga nanti,sungguh beruntung bagi orang2 yang mahu merenungkan hal ini dan suka bershodaqoh, karena sejatinya dia sedang investasi jangka panjang, menjadikan harta yang hanya titipan dari Allah menjadi harta dia yang sebenarnya. Sehingga tidak berlebihan kalaw kita katakan “orang yang suka bershodaqoh adalah orang yang cerdas dan orang yang berat mengeluarkan uangnya untuk shodaqoh adalah orang yang bodoh”

Sodaraku sesama muslim, bahkan karena besarnya pahala shodaqoh, jika seorang yang sudah mati di ijinkan oleh Allah untuk hidup lagi sebentar niscaya amalan yang bakal dia lakukan adalah shodaqoh.

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

10. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Al-munafiqun/10)

Coba lihat dari ayat ini, kenapa mereka yang sudah mati tidak berkata “fausholli, atau fa asuumu atau fa ahujju” mengapa mereka tidak milih akan sholat, akan puasa ataw haji, mereka lebih milih shodaqoh, hal ini karena mereka tahu besarnya pahala shodaqoh setelah mereka mati.

Saudaraku, jika kita denger nama hewan kucing, maka sudah tidak asing lagi bagi kita, hewan lucu dan manja kesayangan Rosulullah. Kucing adalah hewan yang hidup dengan kita, mereka sering memelas minta makan kepada tuannya. Banyak juga dari kita yang merasa terganggu dengan seeokor kucing, bahkan tidak sedikit yang membencinya ataw bahkan menyakitinya.

Ketika kita sedang makan, kucing pasti datang mereka menunggu kita, walaupun kita tidak paham bahasa mereka, kita pasti sudah tahu kalau niat mereka adalah minta dikasihani atau mungkin kita yang pura2 tidak tahu. Saudaraku jika seandainya kucing bisa ngomong ataw kita paham bahasa mereka, mereka hanya minta sedikit makan, mereka akan menceritakan kalaw perutnya lapar. Saudaraku coba bayangkan jika seandainnya kita yang berada di posisi kucing, kita hanya sedikit minta makan tapi malah di usir, malah dilempar dengan sepatu, bahkan tidak jarang dari kita yang lebih memilih membuang sisa ikan yang kita makan ketempat sampah walaupun kita tahu kucing sudah menunggunya dari tadi.

Saudaraku sesama muslim tahukan anda, ketika kucing datang ketika kita makan sebenarnya kucing sedang mengajari kita. Mereka mengajari kita beberapa hal.
1. Kucing mengingatkan bahwa dari sebagian harta yang kita makan, ada haknya faqir miskin jangan lupa untuk zakat.
2. Kucing mengajari kita untuk memberi tanpa pamrih tanpa mengharapkan balasan dari yang diberi. Jika kita memberi orang lain mungkin sedikit banyak kita mengharapkan balasan darinya, tapi kalau kita memberi seekor kucing, apa yang bisa kita harapkan dari seekor kucing????
3. Kucing mengajari kita untuk menerima apa adanya, Iklas dan qonaah. Apa yang kita berikan kepada seekor kucing ketika selsai makan, mungkin hanya sisa ikan, kepala ataw durinya tanpa memberinya daging sedikitpun, tapi dengan pemberian itu kucingpun tetap memakannya, mungkin mereka iklas atau mungkin karena sudah tidak kuat menahan rasa laparnya. Sungguh tega sekali jika kita makan ikan lele ples kepalanya kita makan juha tanpa memperdulikan seekor kucing yang menunggu belas kasihan kita.

Oleh karena itu, mari kita belajar hikmah, bahkan dari seekor kucing. Mari kita belajar untuk tidak mengusir kucing ketika dia datang kepada kita. Mari kita belajar shodaqoh darinya.

Tulisan ini saya tutup dengan sebuah cerita didalam kitan Fawaidul Muhtaroh /176. Agar kita menjadi orang yang suka bershodaqoh. Mudah2han bisa diambil hikmahnya.

Ada seorang laki2 yang duduk berdua dengan istrinya di rumahnya, istrinya mempersiapkan makanan berupa ayam panggang kepada suaminya. Ketika mereka berdua mahu makan. Tiba2 ada orang yang mngetuk pintu, ada seorang pengemis yang minta diberikan makan. Mengetahui hal ini, istrinya berkata kepada suaminya “mas bolehkah ayam panggang ini saya shodaqohkan ke pengemis itu??” Suaminya berkata “jangan, enak saja, sudah usir saja pengemis itu, ganggu orang sedang makan saja” akhirnya istrinya hanya bisa patuh kepada suaminya. Setelah kejadian itu rizki suami istri menjadi seret, mereka menjadi orang miskin, suaminnya bangkrut, bahkan tidak punya uang lagi untuk kebutuhanya sehari2, sampai akhirnnya si suami menceraikan istrinya.
Singkat cerita si istri tadi menikah lagi dengan orang lain. Suatu ketika istri tadi sedang duduk dirumahnya dengan suaminya yang baru, mereka akan makan ayam panggang bersama dirumahnya, tiba2 ada yang mengetuk pintu rumahnya. Ada seorang pengemis yang minta diberi makan. Istri tadi berkata kepada suaminya yang baru “apakah boleh ayam ini saya shodaqohkan kepada pengemis itu?” Berbeda dengan suami yang sebelumnya, ternyata suaminya yang baru membolehkan nya, dia berkata “silahkan berikan semua makanan ini kepada pengemis itu!” Istrinya pun taat dan pergi kedepan untuk memberikan semua makanan kepada pengemis tadi. Setelah istriya kembali kepada suaminya, dia menangis, suaminya heran dan bertanya “kenapa istriku, kenapa engkau menangis? Apakah engkau menangis karena memberikan semua makanan kita kepada pengemis tadi?” Istriya menjwab. “Tidak wahai suamiku bukan karena itu, hari ini saya melihat kejadian yang besar, tahukah mas siapa pengemis tadi, dia adalah suamiku yang pertama”. Kemudian suaminya yang baru berkata “wahai istriku, tidakkah engkau mengenaliku, sesungguhnya aku adalah pengemis yang dulu minta2 kerumahmu”😊

Wallahuakalam.

Like fanpage fb
@masail diniyah
@yovielfaqirrohman
😊

Categories: Bacaan Islam
  1. November 24, 2016 at 12:56 pm

    keren

    Like

  2. November 24, 2016 at 12:57 pm

    keren ustad

    Like

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: